3.000 Hotspot Mengintai Sulbar, Gubernur Serukan Warga Tak Membakar Lahan
Mamuju, TOKATA.id - Ancaman kemarau panjang yang melanda Indonesia mulai meninggalkan jejak serius di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Barat. Di tengah musim kering yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman kian mengintai.
Berdasarkan pemantauan terbaru, sekitar 3.000 titik panas (hotspot) terdeteksi tersebar di wilayah Sulawesi Barat. Sementara itu, sedikitnya 155 insiden kebakaran, baik yang melanda kawasan hutan maupun permukiman warga, telah terjadi sepanjang musim kering.
Merespons situasi tersebut, Gubernur Sulbar Suhardi Duka bersama pemerintah di enam kabupaten bergerak cepat dengan mendirikan posko-posko penanganan di wilayah yang dinilai rawan. Langkah ini ditempuh untuk mempercepat penanganan sekaligus meminimalkan risiko kebakaran meluas.
Namun, Suhardi menyadari bahwa upaya pemerintah tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat. Menurutnya, menjaga lingkungan dari ancaman api merupakan tanggung jawab bersama, terlebih di tengah kondisi cuaca yang kering dan mudah memicu kebakaran.
Karena itu, ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat, terutama petani dan pekebun, untuk tidak menggunakan cara membakar ketika membersihkan maupun membuka lahan baru. Selain membahayakan lingkungan dan permukiman, praktik tersebut juga dapat berujung pada proses hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Olehnya itu, saya berharap supaya kita mencegah, jangan melakukan pembakaran dalam bentuk alasan apa pun. Itu tentunya kita berharap bahwa Sulawesi Barat ini bisa terhindar dari kebakaran yang semakin meluas,” tegas Suhardi Duka.
“Saya kira itu imbauan saya. Semoga ini menjadi perhatian kita dan kita doakan semoga hujan segera turun, kemarau berkepanjangan ini bisa berhenti, dan kita Sulawesi Barat selamat dari karhutla dan kebakaran pemukiman,” pungkasnya. (*/Rigo Pramana)
.jpeg)