BREAKING NEWS

Ketika Harapan Harus Dijaga, RSUD Sulbar Edukasi Masyarakat tentang Pencegahan Bunuh Diri

 

Mamuju, TOKATA.id - Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat edukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Upaya tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan sosial yang lebih peduli, peka, dan mampu menjadi ruang aman bagi mereka yang sedang menghadapi persoalan kehidupan.

Penguatan edukasi kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri ini sejalan dengan Panca Daya Membangun SDM yang Unggul dan Berkarakter yang diusung Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur, perhatian terhadap kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, tangguh secara emosional, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Edukasi tersebut digelar pada Selasa, 15 September 2026, di Ruang Tunggu Rekam Medik RSUD Provinsi Sulawesi Barat. Psikolog RSUD Provinsi Sulawesi Barat, Andi Budhy Rakhmat, hadir sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Andi Budhy Rakhmat menegaskan bahwa bunuh diri merupakan persoalan kesehatan yang dapat dicegah. Karena itu, memahami besarnya persoalan dan membicarakannya secara terbuka tanpa stigma menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian sekaligus mendorong tindakan yang tepat.

Ia menjelaskan sejumlah faktor risiko yang perlu dikenali, di antaranya gangguan kesehatan jiwa seperti depresi dan kecemasan berat, kehilangan orang terkasih atau duka yang mendalam, tekanan ekonomi maupun kehilangan pekerjaan, penyakit fisik kronis atau nyeri berkepanjangan, isolasi sosial dan minimnya dukungan lingkungan, serta riwayat trauma, kekerasan, atau percobaan bunuh diri sebelumnya.

Selain memahami faktor risiko, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda peringatan yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Secara verbal, seseorang dapat berulang kali mengungkapkan keinginan untuk mati atau mengakhiri hidup, merasa menjadi beban bagi orang lain, maupun merasa terjebak dalam situasi tanpa harapan.

Secara perilaku, tanda tersebut dapat terlihat dari kecenderungan menarik diri dari keluarga dan pergaulan, memberikan barang-barang berharga kepada orang lain, hingga perubahan drastis pada pola tidur atau pola makan.

Sementara secara emosional, tanda peringatan dapat berupa perubahan suasana hati yang sangat tajam, kecemasan atau kemarahan yang berlebihan, serta kesedihan mendalam yang tampak tanpa alasan yang jelas.

Di sisi lain, faktor pelindung juga memiliki peran penting dalam menekan risiko. Dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan teman, kemampuan mengelola persoalan, lingkungan rumah, sekolah, dan tempat kerja yang aman, serta kemudahan mengakses layanan kesehatan jiwa merupakan sejumlah faktor yang perlu diperkuat.

Rasa harapan dan makna dalam hidup, termasuk keyakinan spiritual serta nilai-nilai pribadi, juga dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang ketika menghadapi masa-masa sulit.

Menutup pemaparannya, Andi Budhy Rakhmat mengajak seluruh pihak untuk mengambil peran dalam pencegahan bunuh diri. Menurutnya, kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana: berbicara secara terbuka, menanyakan kabar dan perasaan seseorang, mendengarkan tanpa menghakimi, memastikan keamanannya, serta menghubungkan dengan bantuan atau tenaga profesional.

Masyarakat juga diimbau menyimpan nomor layanan SEJIWA 119 ekstensi 8 dan mengakses laman Healing119.id, mengenali tanda-tanda peringatan pada diri sendiri maupun orang di sekitar, serta memperkuat dukungan sosial dan harapan hidup.

Pesan penting yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa tidak seorang pun seharusnya menghadapi persoalan berat seorang diri. Sebab, terkadang sebuah percakapan sederhana, telinga yang bersedia mendengar, dan kehadiran seseorang di saat yang tepat dapat menjadi jembatan menuju pertolongan.

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Peserta terlihat aktif menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan kesehatan jiwa serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memberikan dukungan kepada orang yang membutuhkan.

Direktur RSUD Provinsi Sulawesi Barat, dr. Musadri Amir Abdullah, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.

RSUD Provinsi Sulawesi Barat, kata dia, berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan edukasi dan pelayanan kesehatan jiwa sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Barat.

Bagi mereka yang sedang berjuang, pesan yang hendak disampaikan sederhana: meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, keberanian untuk berbicara dan kepedulian untuk mendengar adalah bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan. (*/Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar