BREAKING NEWS

UMKM Pembudidaya Ikan di Mamuju, Desak PLN Batasi Pemadaman Maksimal Dua Jam

 


Mamuju, TOKATA.id - Pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Sulawesi Barat, khususnya Mamuju, mulai menimbulkan keresahan di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi pembudidaya ikan air tawar, listrik bukan sekadar penerang, melainkan denyut kehidupan di dalam kolam.

Pemadaman yang berlangsung hingga empat sampai lima jam dalam sehari dinilai berpotensi menimbulkan kerugian. Salah seorang pelaku UMKM pembudidaya ikan air tawar, Reyhan, mengatakan kelangsungan usahanya sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.

Menurutnya, perangkat aerator yang berfungsi menyuplai oksigen ke dalam kolam harus terus bekerja. Ketika listrik terputus terlalu lama, kadar oksigen di dalam air menurun dan ikan berada dalam kondisi yang rentan.

"Ikan itu butuh gelembung aerasi dari aerator yang ada di kolam. Kalau aeratornya berhenti hingga di atas dua jam, ikan kehilangan pasokan oksigen dalam kolam," ungkap Reyhan kepada media.

Ia menuturkan, sejak pemadaman bergilir diberlakukan di wilayah Mamuju, sejumlah ikan yang dibudidayakannya mulai mati akibat minimnya pasokan oksigen.

"Dua hari ini, sudah ada lima sampai enam ekor ditemukan mengambang ke permukaan karena mati. Ini karena oksigen dalam kolam minim," tutur Reyhan.

Ia menjelaskan, ikan yang dibudidayakan tidak dapat bertahan lama dalam kondisi kekurangan oksigen. Jika pemadaman berlangsung lebih dari dua jam dan kondisi tersebut berulang, ikan dapat mengalami stres hingga akhirnya mati.

"Pasokan oksigen terputus pada kolam budidaya ikan hanya bisa sampai dua jam. Kalau lebih dari itu, ikan bakal stres dan berujung mati. Ketika ini terjadi, tentu kami yang mengalami kerugian," kata Reyhan.

Karena itu, Reyhan mendesak pihak PLN mempertimbangkan durasi pemadaman bergilir, terutama bagi pelaku UMKM yang kegiatan usahanya sangat bergantung pada pasokan listrik.

Ia berharap waktu pemadaman dapat dibatasi maksimal dua jam dalam satu kali pemadaman. Menurutnya, langkah tersebut setidaknya dapat mengurangi risiko kerugian yang kini mulai dirasakan para pelaku usaha.

"Jadi kami desak ke PLN mempertimbangkan lama jangka waktu pemadaman paling lama hanya dua jam, meskipun dalam sehari, sebab kami cukup merasakan dampaknya," desak Reyhan. (Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar