BREAKING NEWS

Dari Adaptasi hingga Daya Saing, Mustari Mula Tawarkan Model AKIK dalam Transformasi Digital Sulbar


 

Makassar, TOKATA.id - Mustari Mula resmi meraih gelar Doktor pada Program Doktor Studi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Gelar akademik tersebut diraih setelah Mustari Mula berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Akhir Disertasi yang digelar di Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Senin, 24 Agustus 2026.

Disertasi yang dipertahankan mengangkat judul “Adaptasi Pemerintahan Berbasis Elektronik dan Daya Saing Daerah Provinsi Sulawesi Barat.”

Penelitian itu berangkat dari satu persoalan strategis: bagaimana pemerintah daerah beradaptasi di tengah arus transformasi digital, membangun kapasitas kelembagaan, mengimplementasikan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), sekaligus menjadikan transformasi tersebut sebagai kekuatan untuk meningkatkan daya saing daerah.

Dalam penelitian tersebut, Mustari Mula, yang juga menjabat Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Sulawesi Barat, menawarkan sebuah kerangka konseptual yang disebut Model AKIK, yakni Adaptasi – Kapasitas Institusional – Implementasi – Kompetitif.

Model ini menegaskan bahwa transformasi pemerintahan digital tidak cukup dibangun dengan teknologi, aplikasi, maupun infrastruktur semata. Di balik layar digital, terdapat manusia dan institusi yang harus siap berubah.

Keberhasilan transformasi digital, menurut penelitian tersebut, membutuhkan kesiapan aparatur, kapasitas kelembagaan, kualitas implementasi sistem pemerintahan digital, serta kemampuan pemerintah daerah menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif bagi daerah.

“Transformasi digital pemerintahan pada dasarnya bukan semata-mata persoalan teknologi. Ada dimensi manusia, kelembagaan, implementasi dan dampaknya terhadap daya saing daerah yang harus dilihat sebagai satu kesatuan,” demikian substansi utama penelitian Mustari Mula.

Penelitian ini memadukan sejumlah perspektif teoritis. Di antaranya Culture Shock Theory dari Kalervo Oberg untuk melihat proses adaptasi aparatur terhadap perubahan digital, Institutional Capacity dari Merilee S. Grindle untuk menganalisis kapasitas kelembagaan, serta perspektif Public Value yang dikembangkan Mark H. Moore untuk memahami nilai publik dan dampak pemerintahan terhadap masyarakat.

Sementara dalam menganalisis implementasi SPBE, penelitian Mustari Mula menggunakan empat domain utama, yakni kebijakan, tata kelola, manajemen, dan layanan.

Manajemen Jadi Faktor Kunci

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan SPBE di Sulawesi Barat mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan indeks tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kapasitas di seluruh aspek pemerintahan digital.

Salah satu temuan penting penelitian menunjukkan bahwa domain manajemen menjadi aspek SPBE yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap daya saing daerah.

Domain tersebut mencakup pengelolaan teknologi, risiko, keamanan, data, aplikasi, infrastruktur, hingga layanan pemerintahan.

Hasil analisis Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) menunjukkan nilai R² sebesar 0,660 pada konstruk Daya Saing Daerah. Sementara pengaruh domain Manajemen terhadap Daya Saing Daerah memiliki nilai effect size (f²) sebesar 0,687, yang berada dalam kategori besar.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan pemerintahan digital tidak berhenti pada keberadaan aplikasi atau layanan elektronik. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan pemerintah mengelola seluruh ekosistem digital secara terintegrasi.

Mulai dari sumber daya manusia, data, infrastruktur, keamanan, manajemen risiko, hingga layanan publik harus bergerak dalam satu orkestrasi yang sama.

Dengan kata lain, teknologi hanyalah pintu masuk. Nilai sesungguhnya lahir ketika teknologi mampu mengubah cara pemerintah bekerja dan menghadirkan manfaat yang terasa bagi masyarakat.

Adaptasi Aparatur Menjadi Fondasi

Penelitian ini juga menemukan bahwa proses adaptasi aparatur memiliki peran penting dalam implementasi pemerintahan digital.

Dari empat fase adaptasi yang dianalisis berdasarkan Culture Shock Theory, yakni Honeymoon, Crisis, Recovery, dan Adjustment, fase Adjustment menunjukkan pengaruh paling kuat terhadap implementasi SPBE.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital membutuhkan proses adaptasi aparatur hingga mencapai tahap penyesuaian terhadap pola kerja, teknologi, serta lingkungan pemerintahan yang baru.

Transformasi digital, dengan demikian, bukan sekadar perpindahan dari berkas kertas menuju layar komputer. Ia merupakan perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara organisasi pemerintahan merespons kebutuhan masyarakat.

Atas dasar itu, Model AKIK yang ditawarkan Mustari Mula menempatkan aparatur dan kapasitas kelembagaan sebagai fondasi, implementasi pemerintahan digital sebagai proses utama, serta daya saing daerah sebagai orientasi akhir.

Dari SPBE Menuju Pemerintahan Digital

Temuan penelitian tersebut menjadi semakin relevan seiring arah kebijakan nasional yang bergerak dari pendekatan SPBE menuju Pemerintahan Digital.

Program Doktor Studi Pembangunan Unhas sendiri menekankan pentingnya penelitian yang menghasilkan inovasi serta rekomendasi kebijakan bagi pembangunan daerah maupun nasional.

Dalam konteks itu, Model AKIK diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan konseptual untuk memahami sekaligus mendorong transformasi pemerintahan digital di tingkat daerah.

Mustari Mula menilai, pemerintah daerah perlu mengubah cara pandang terhadap digitalisasi pemerintahan. Digitalisasi tidak semestinya dipahami sebatas pengadaan aplikasi, melainkan sebagai proses transformasi organisasi dan budaya kerja pemerintahan.

“Pemerintahan digital harus menghasilkan perubahan nyata dalam cara pemerintah bekerja, memberikan pelayanan dan menciptakan nilai bagi masyarakat. Karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan, bukan sebagai tujuan itu sendiri,” ujarnya.

Tim Promotor dan Penguji

Dalam proses akademik penyelesaian disertasinya, Mustari Mula dibimbing oleh Tim Promotor yang terdiri atas Promotor Prof. M. Tahir Kasnawi, Ko-Promotor I Muhammad Idris, dan Ko-Promotor II Suryadi Lambali.

Sementara Tim Penguji terdiri atas Prof. Sukri Tamma dan anggota tim penguji lainnya, serta Penguji Eksternal Prof. Risma Niswaty.

Dengan selesainya Ujian Akhir Disertasi tersebut, perjalanan akademik Mustari Mula pada jenjang doktoral Studi Pembangunan Universitas Hasanuddin resmi memasuki tahap akhir.

Gelar doktor yang diraihnya sekaligus memperkaya pengalaman akademik dan profesional Mustari Mula dalam bidang pemerintahan, komunikasi publik, transformasi digital, dan pembangunan daerah.

Melalui penelitian yang dilakukannya, Mustari Mula berharap Model AKIK tidak berhenti sebagai kontribusi akademik. Lebih dari itu, gagasan tersebut diharapkan dapat dikembangkan sebagai perspektif dalam mendorong transformasi pemerintahan digital yang lebih adaptif, berkapasitas, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan daya saing daerah.

Gagasan Model AKIK yang ditawarkan Mustari Mula memiliki relevansi kuat dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, khususnya dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel serta menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas. (*/Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar