BPBD Sulbar Perkuat Budaya Siaga Bencana, dari Sekolah hingga Antisipasi Karhutla
Mamuju, TOKATA.id - Upaya membangun kesiapsiagaan bencana di Sulawesi Barat terus diperkuat dari berbagai lini. Tidak hanya melalui koordinasi antarpemerintah dan kesiapan menghadapi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), edukasi kebencanaan juga ditanamkan sejak dini melalui lingkungan sekolah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat melalui kegiatan Pendidikan Aman Bencana melaksanakan sosialisasi dan simulasi kesiapsiagaan bencana di UPTD SMAN 2 Tapalang, Kabupaten Mamuju, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun warga sekolah yang tidak sekadar mengenal bencana, tetapi juga memahami risiko, mengenali langkah penyelamatan diri dan mampu mengambil tindakan secara cepat dan tepat ketika keadaan darurat datang.
Langkah itu sekaligus mendukung arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka agar penguatan kesiapsiagaan bencana dilakukan secara berkelanjutan, termasuk dengan menjadikan lingkungan pendidikan sebagai ruang penting dalam membangun budaya sadar dan tangguh bencana.
Kalaksa BPBD Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Yasir Fattah mengatakan, pendidikan aman bencana tidak berhenti pada penyampaian teori, melainkan harus diterjemahkan menjadi pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam situasi nyata.
“Pendidikan aman bencana bukan hanya tentang mengetahui jenis-jenis bencana, tetapi bagaimana setiap warga sekolah mampu memahami risiko, mengetahui langkah penyelamatan diri dan dapat bertindak cepat serta tepat ketika terjadi bencana,” ujar Yasir Fattah.
Dalam sosialisasi tersebut, BPBD Sulbar memberikan pemahaman mengenai potensi dan risiko bencana, mitigasi, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga tindakan yang perlu dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana terjadi.
Pemahaman itu kemudian dipraktikkan melalui simulasi kesiapsiagaan yang melibatkan peserta didik dan unsur sekolah. Simulasi diharapkan memberi pengalaman langsung kepada siswa dan tenaga pendidik sehingga pengetahuan kebencanaan tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi menjadi refleks keselamatan ketika situasi darurat benar-benar terjadi.
Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Setelah pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Darurat Bencana Cuaca Ekstrem, Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Dampak El Nino di Lapangan Ahmad Kirang, Kabupaten Mamuju, Rabu (2/9/2026), Muhammad Yasir Fattah melakukan diskusi bersama Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi dan Forkopimda.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Pemerintah Kabupaten Mamuju serta unsur Forkopimda dalam mengantisipasi potensi bencana, khususnya kekeringan dan Karhutla.
Yasir Fattah mengatakan, kesiapsiagaan membutuhkan kerja bersama yang terukur dan berkelanjutan. Sesuai arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, seluruh unsur pemerintah dan pemangku kepentingan didorong untuk memperkuat komunikasi, koordinasi serta sinergi dalam menghadapi setiap ancaman bencana.
Dalam diskusi tersebut, dibahas pula pentingnya kesiapan personel, koordinasi lintas sektor serta langkah-langkah antisipatif menghadapi dampak kekeringan dan potensi Karhutla di wilayah Kabupaten Mamuju.
Muhammad Yasir Fattah menegaskan BPBD Sulbar siap memberikan dukungan kepada pemerintah kabupaten dalam setiap upaya penanggulangan bencana.
“Kesiapsiagaan harus terus dijaga, baik melalui pemantauan kondisi wilayah, penguatan koordinasi, kesiapan sumber daya maupun respons cepat apabila terjadi keadaan darurat,” tegas Yasir Fattah.
Bagi Sulawesi Barat, kesiapsiagaan bukan sekadar agenda seremonial. Ia perlu tumbuh menjadi kebiasaan—ditanamkan di sekolah, diperkuat di pemerintahan dan dijaga melalui kolaborasi seluruh unsur masyarakat. Sebab, ketika bencana datang tanpa mengetuk pintu, pengetahuan dan kesiapan menjadi dua hal yang dapat menyelamatkan kehidupan. (*/Rigo Pramana)
