Kopi Mamasa Menemukan Identitasnya, IG Arabika dan Robusta Resmi Diluncurkan
Mamasa, TOKATA.id — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Mamasa tahun ini tak hanya menjadi perayaan tentang sejarah dan kebangsaan. Di tengah semarak merah putih, sebuah ikhtiar untuk menjaga identitas dan masa depan komoditas lokal turut ditandai dengan peluncuran Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika dan Kopi Robusta Mamasa.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Kondosapata, Mamasa, Senin (17/8/2026).
Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Andi Sitti Kamalia, hadir dalam kegiatan tersebut berdasarkan arahan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin.
Peluncuran Indikasi Geografis Kopi Arabika dan Robusta menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas sekaligus daya saing kopi asal Mamasa. Komoditas ini merupakan salah satu kekayaan perkebunan Sulawesi Barat yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan, terutama di Kabupaten Mamasa yang dikenal memiliki karakter wilayah yang mendukung budidaya kopi Arabika dan Robusta.
Indikasi Geografis merupakan tanda yang menunjukkan asal suatu produk yang memiliki karakteristik, kualitas, reputasi, atau ciri khas tertentu yang dipengaruhi faktor geografis. Dalam konteks kopi, kekhasan tersebut lahir dari pertautan antara iklim, tanah, lingkungan, serta pengetahuan dan budaya masyarakat dalam membudidayakan hingga mengolah hasil perkebunan.
Karena itu, IG bukan sekadar penanda asal. Ia merupakan bentuk perlindungan terhadap nama, karakter, dan reputasi sebuah produk yang tumbuh dari bentang alam serta pengetahuan masyarakat yang merawatnya.
Dengan adanya perlindungan Indikasi Geografis, identitas dan keaslian kopi Mamasa diharapkan semakin terjaga. Pada saat yang sama, penggunaan nama Mamasa secara sembarangan oleh produk yang tidak berasal dari wilayah tersebut dapat dicegah.
Sekretaris Dinas Perkebunan Sulawesi Barat, Andi Sitti Kamalia, mengatakan peluncuran IG Kopi Arabika dan Robusta merupakan momentum strategis bagi pengembangan perkebunan kopi di Sulawesi Barat.
“Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Barat, dan Kabupaten Mamasa memiliki potensi yang sangat besar, baik untuk kopi Arabika maupun Robusta. Karena itu, adanya Indikasi Geografis menjadi bagian penting untuk memberikan perlindungan terhadap identitas dan kekhasan kopi Mamasa sekaligus meningkatkan nilai tambah serta daya saingnya,” kata Andi Sitti Kamalia.
Menurut dia, penguatan Indikasi Geografis harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kualitas produksi, konsistensi mutu, serta keterlibatan aktif petani dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami berharap dengan adanya IG ini, petani semakin termotivasi untuk menjaga kualitas dan karakteristik kopi Mamasa. Pemerintah akan terus mendorong pengembangan komoditas perkebunan unggulan agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan petani dan perekonomian daerah,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka yang mendorong penguatan ekonomi daerah berbasis potensi lokal sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, melalui arahannya mendorong agar momentum tersebut menjadi bagian dari penguatan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Peluncuran IG Kopi Arabika dan Robusta Mamasa diharapkan membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan pasar, meningkatkan nilai ekonomi produk, memperkuat citra dan merek kopi daerah, serta mengantarkan kopi Mamasa menembus pasar nasional hingga internasional.
Pada akhirnya, Indikasi Geografis memberi kopi Mamasa sebuah perlindungan yang lebih dari sekadar label. Di dalamnya terdapat nama sebuah daerah, jejak sejarah, pengetahuan para petani, budaya yang diwariskan, dan karakter alam yang tak mudah dipindahkan ke tempat lain.
Kopi Mamasa pun diharapkan tidak lagi sekadar dipandang sebagai hasil perkebunan, melainkan sebagai kekayaan daerah yang memiliki identitas dan cerita—tumbuh dari tanah Mamasa, dirawat oleh tangan-tangan petani, dan kini dipersiapkan untuk menemukan tempat yang lebih luas di pasar dunia.
(*/Rigo Pramana)
