BREAKING NEWS

Dispoparekraf Sulbar Dorong Ekosistem Ekraf melalui Festival Musik dan Pameran

 

Mamuju, TOKATA.id — Kehadiran pelaku usaha dan komunitas kreatif dalam satu ruang diharapkan menjadi simpul yang memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Sulawesi Barat. Di ruang itu pula, karya-karya lokal memperoleh panggung untuk diapresiasi, dikenal, dan tumbuh menembus batas-batas daerah.

Harapan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Provinsi Sulawesi Barat, Bau Akram Dai, saat membuka Festival Musik dan Pameran Ekonomi Kreatif di Landscape Manakarra Tower Mamuju, Rabu, 19 Agustus 2026.

Digelar Dispoparekraf Sulbar melalui Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembinaan dan pengembangan ekonomi kreatif untuk mendorong kreativitas serta meningkatkan kapasitas para pelaku usaha, khususnya pada subsektor musik.

Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka yang menempatkan penguatan sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berkelanjutan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.

Menurut Bau Akram Dai, penguatan ekosistem ekonomi kreatif akan membuka ruang produktivitas yang lebih luas bagi generasi muda dan pelaku usaha lokal. Kreativitas yang dirawat dan dikembangkan, kata dia, bukan semata ekspresi, tetapi juga dapat menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang memberi nilai tambah dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Festival Musik dan Pameran Ekonomi Kreatif menjadi penting untuk meningkatkan dan mendorong ekonomi lokal serta usaha kecil. Kita berkumpul bukan sekadar untuk menonton konser atau melihat stan pameran, tetapi untuk merayakan bukti nyata bahwa kreativitas merupakan salah satu kekuatan ekonomi masa depan,” kata Bau Akram.

Ia menambahkan, festival tersebut juga menjadi ruang persemaian inovasi dan gagasan kreatif dari talenta-talenta Sulawesi Barat. Pada saat yang sama, para pelaku ekonomi kreatif mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya, memperluas promosi, dan membangun jejaring.

“Kita menyatukan dua kekuatan besar, yaitu musik sebagai bahasa universal yang menyatukan kita dan ekonomi kreatif sebagai wadah inovasi yang menciptakan peluang. Melalui festival ini, kami ingin memberikan panggung bagi talenta lokal untuk bersinar dan membantu produk-produk kreatif kita agar semakin dikenal luas,” ujarnya.

Bau Akram menegaskan, setiap karya yang dipentaskan maupun dipamerkan merupakan buah dari kreativitas, dedikasi, dan kerja keras para pelaku ekonomi kreatif. Karena itu, pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendorong hadirnya ruang-ruang kreatif yang memungkinkan generasi muda berkarya sekaligus mengembangkan potensi ekonominya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Andi Harun Rasyid, selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa Festival Musik dan Pameran Ekonomi Kreatif merupakan bentuk fasilitasi pemerintah daerah untuk memberi ruang kepada pelaku ekonomi kreatif dalam mengembangkan potensi, memperkenalkan karya, serta membangun jejaring.

“Melalui kegiatan ini, kami memberikan ruang kepada para pelaku ekonomi kreatif, khususnya subsektor musik, untuk menampilkan kreativitas dan karya mereka. Kami berharap kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas promosi, membangun jejaring, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha,” ujar Andi Harun Rasyid.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pameran ekonomi kreatif, penampilan tari, serta pertunjukan grup band yang menghadirkan warna dan ekspresi kreatif para pelaku seni dan ekonomi kreatif lokal.

Pada pembukaan festival turut hadir Wakil Ketua II DPRD Provinsi Sulawesi Barat Munandar Wijaya, Kepala Dinas Perkebunan Sulbar Faizal Thamrin, perwakilan Bank Indonesia, para pelaku usaha ekonomi kreatif, serta masyarakat Mamuju.

Pertemuan berbagai unsur tersebut menjadi penanda bahwa ekonomi kreatif tidak tumbuh dalam ruang yang sunyi. Ia membutuhkan panggung, jejaring, kolaborasi, dan keberanian untuk terus mencipta. Dari ruang-ruang semacam inilah, kreativitas lokal diharapkan menemukan jalannya menjadi kekuatan ekonomi yang menggerakkan Sulawesi Barat. (*/Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar