Pertumbuhan Ekonomi Sulbar Capai 5,33%, Dan Harapan Pertumbuhan Bakal Menyentuh 6%
Mamuju, TOKATA.id – Seperti ombak yang surut sementara di pantai Sulawesi Barat, perekonomian daerah ini mencatat tren positif namun moderat pada triwulan I 2026. Pertumbuhan ekonomi Sulbar bertahan di 5,33 persen (yoy), di atas ambang lima persen, meski mengalami perlambatan dari 6,12 persen pada triwulan IV 2025. Normalisasi ini sejalan dengan moderasi penyaluran kredit perbankan sebesar 3,84 persen (yoy), turun dari 6,87 persen triwulan sebelumnya, ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho, saat SIPAKADA Media di Cafe Ruang Rindu, Mamuju, Jumat (8/5/2026).
"Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan I-2026 masih menunjukkan tren positif di angka 5,33 persen (yoy), meskipun mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulbar mencatat aktivitas ekonomi daerah tetap terjaga, didorong kuat oleh konsumsi rumah tangga, kendati sektor perikanan dan perkebunan menghadapi penurunan sementara akibat kondisi musiman dan proses peremajaan tanaman. Di sisi keuangan, penyaluran kredit melambat ke 3,84 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh stabil di 10,28 persen (yoy), dengan inflasi terkendali di 1,66 persen (yoy) hingga April 2026, masih berada di bawah kisaran target nasional."
Secara historis, ekonomi Sulbar menunjukkan ketangguhan: tumbuh 4,85 persen pada 2022, melonjak ke 5,92 persen di 2023, meredup sedikit menjadi 5,41 persen pada 2024, dan kembali menguat 5,78 persen sepanjang 2025 (data BPS Sulbar). Potensi ke depan cerah, diproyeksikan mencapai 6-6,5 persen hingga 2027, didorong sektor perikanan (kontribusi 15%), perkebunan sawit-kakao (20%), dan konstruksi yang mulai pulih dari kontraksi minus 16 persen (yoy) akibat penundaan proyek. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar kokoh, menjaga akselerasi belanja masyarakat di tengah dinamika musiman.
Perlambatan kredit ini bersinkron dengan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil di 10,28 persen (yoy), meski Loan to Deposit Ratio (LDR) melonjak ke 274,15 persen sinyal ketergantungan pada dana luar wilayah. Struktur kredit 2020-2025 didominasi pertanian, perburuan, kehutanan (20,50 persen), perdagangan (17,93 persen), dan industri pengolahan (2,37 persen), dengan yang terakhir kini tumbuh positif 7,08 persen (yoy).
Kualitas kredit terjaga, dengan Non-Performing Loan (NPL) total di 4,25-4,45 persen, walau UMKM dan KUR menimbulkan kewaspadaan: kontraksi 4,37 persen (yoy) senilai Rp7,60 triliun, NPL naik ke 3,91 persen. “Pertumbuhan kredit UMKM terkontraksi, tapi modal perbankan masih kuat meredam tekanan,” tegas Eka.
Inflasi pun terkendali, mencatat 1,66 persen (yoy) hingga April 2026 dan 1,33 persen (ytd) masih di bawah target nasional 2,5±1 persen. Tren tahun ke-tahun: 3,12 persen (2023), turun ke 2,45 persen (2024), 2,18 persen (2025), dan kini 1,66 persen terendah dalam empat tahun, meski tiket penerbangan Mamuju-Makassar/Balikpapan memberi tekanan. Penyebab perlambatan ekonomi meliputi kontraksi perikanan akibat ombak tinggi Januari-Februari, serta replanting sawit-kakao.
BI optimistis akselerasi triwulan depan, dengan konstruksi sebagai katalisator proyek infrastruktur.
“Fokus utama: keseimbangan kredit pruden, penghimpunan dana lokal untuk kemandirian likuiditas, dan pertumbuhan inklusif yang dirasakan masyarakat,” pungkas Eka. (Rigo Pramana)
