PUPR Sulbar Siapkan Penanganan Jalan 12 Kilometer, Buka Konektivitas Mamasa–Polman
Mamuju, TOKATA,id - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sulawesi Barat menyiapkan rencana penanganan jalan sepanjang 12 kilometer yang menghubungkan Desa Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, dengan Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Ruas jalan ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat konektivitas antarkabupaten, membuka akses masyarakat, serta memperlancar mobilitas dan distribusi hasil produksi. Di wilayah yang masih dihadapkan pada tantangan geografis, jalan bukan sekadar bentangan aspal, melainkan urat nadi yang menghubungkan aktivitas warga, pelayanan publik, dan peluang ekonomi.
Langkah tersebut sejalan dengan visi dan misi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang andal, pemerataan pelayanan dasar, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui program Sulbar Mantap Jalan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus berupaya meningkatkan aksesibilitas agar masyarakat lebih mudah menjangkau fasilitas pendidikan, kesehatan, pusat perdagangan, dan berbagai layanan publik.
Konektivitas Mehalaan Barat–Matangnga diharapkan menjadi salah satu pengungkit pemerataan pembangunan sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di kawasan perbatasan Mamasa dan Polman.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Barat, Surya Yuliawan Syarifuddin, mengatakan pembangunan dan peningkatan kualitas jalan merupakan bagian penting dari upaya pemerintah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, keberadaan jalan yang memadai tidak hanya menunjang transportasi, tetapi juga menjadi fondasi bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
“Jalan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Ketika akses semakin baik dan konektivitas antarwilayah terbuka, masyarakat akan lebih mudah bergerak, pelayanan dasar semakin terjangkau, dan potensi ekonomi daerah dapat berkembang. Inilah manfaat pembangunan yang ingin kita hadirkan melalui program Sulbar Mantap Jalan,” kata Surya Yuliawan, Rabu (21/10/2026).
Ia menambahkan, peningkatan akses jalan produksi berpotensi mengoptimalkan pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan masyarakat. Konektivitas yang semakin baik diharapkan mampu menekan waktu dan biaya perjalanan, memperlancar distribusi komoditas, serta membuka ruang usaha baru bagi warga.
“Kita ingin jalan yang ditangani benar-benar memberikan manfaat luas. Bukan hanya mempermudah perjalanan, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru, meningkatkan nilai hasil produksi, dan memberikan peluang bagi masyarakat untuk tumbuh lebih maju dan sejahtera,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR Sulawesi Barat, Sopater Sore, menegaskan bahwa kesinambungan akses dari Mehalaan Barat menuju Matangnga menjadi aspek penting dalam memperkuat keterhubungan masyarakat di kedua kabupaten.
Ia mengatakan, penanganan jalan perlu mempertimbangkan kondisi lapangan, kebutuhan teknis, dan keberlanjutan pemeliharaan agar infrastruktur yang dibangun dapat berfungsi optimal serta memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Konektivitas yang baik harus didukung kondisi jalan yang memadai dan pemeliharaan berkelanjutan. Dengan akses yang semakin baik, masyarakat diharapkan lebih mudah menjangkau pusat pelayanan, mengangkut hasil produksi, dan menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari,” jelasnya.
Penguatan konektivitas jalan juga menjadi bagian penting dari upaya memperlancar mobilitas penduduk, distribusi logistik, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi. Bagi Sulawesi Barat, akses Mehalaan Barat–Matangnga diharapkan dapat memperpendek jarak antara kawasan produksi, pusat pelayanan, dan pasar, sehingga potensi ekonomi masyarakat dapat berkembang lebih optimal.
Melalui rencana penanganan ruas sepanjang 12 kilometer tersebut, PUPR Sulawesi Barat menegaskan komitmennya untuk mendukung jaringan jalan yang semakin mantap, pelayanan dasar yang kian mudah dijangkau, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Sebab, ketika jalan terbuka dan akses semakin dekat, kesempatan untuk tumbuh pun terbuka lebih luas. Pada akhirnya, pembangunan infrastruktur bukan semata-mata tentang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, melainkan juga tentang menghadirkan kesempatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
(*/Rigo Pramana)
