BPBD Sulbar Siaga Hadapi Kemarau, 5.000 Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga
Mamuju, TOKATA.id – Di tengah musim kemarau yang menguji ketahanan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dilakukan melalui distribusi air bersih, pemantauan titik panas, serta pengawasan kualitas udara di sejumlah wilayah.
Menindaklanjuti arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sulbar Muhammad Yasir Fattah menginstruksikan personel Tim I Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla untuk tetap siaga, memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta memantau perkembangan kondisi wilayah secara real-time.
Upaya penanganan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak kekeringan, pemantauan titik panas (hotspot), pengawasan konsentrasi partikel halus PM2.5, hingga koordinasi penanganan karhutla di wilayah rawan.
Distribusi air bersih dilakukan di Batu Pannu, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju. Sementara itu, dua kejadian karhutla dilaporkan terjadi di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, dan Desa Rappang, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar.
“Langkah cepat ini diambil untuk mengantisipasi kekeringan akibat musim kemarau, mencegah meluasnya dampak karhutla, serta meminimalkan ancaman kesehatan masyarakat akibat paparan kualitas udara yang buruk,” kata Muhammad Yasir Fattah, Kamis (22/10/2026).
Dalam operasi tersebut, BPBD Sulbar mengerahkan armada mobil tangki untuk mendistribusikan 5.000 liter air bersih kepada warga. Pemantauan kondisi wilayah juga dilakukan dengan memanfaatkan data satelit dan informasi kualitas udara dari BMKG serta IQAir. Di sisi lain, koordinasi penanganan kebakaran lahan terus dilakukan di lokasi terdampak.
Lima Hektare Lahan Terbakar di Polewali Mandar
Berdasarkan laporan situasi periode 21–22 Oktober 2026, BPBD Sulbar telah menyalurkan 5.000 liter air bersih ke wilayah Batu Pannu, Kecamatan Mamuju. Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak krisis air bersih akibat kemarau.
Pada sektor penanganan karhutla, pemantauan BPBD dengan mengacu pada informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tampa Padang menunjukkan adanya sebaran titik panas di wilayah Sulawesi Barat. Kondisi tersebut terus dipantau secara berkala sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi kebakaran.
Di Kabupaten Polewali Mandar, dua kejadian karhutla tercatat pada 21 Oktober 2026. Kebakaran pertama terjadi di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan atau kebun. Kebakaran kedua terjadi di Desa Rappang, Kecamatan Tapango, dengan luas area terdampak sekitar dua hektare.
Dengan demikian, total lahan yang terbakar dalam dua kejadian tersebut mencapai kurang lebih lima hektare.
Kualitas Udara Berada pada Kategori Sedang
Di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Hasil pemantauan konsentrasi PM2.5 di Kota Mamuju dan wilayah Sulawesi Barat dilaporkan berada dalam kategori sedang.
Meski belum masuk kategori tidak sehat, masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan, terutama apabila muncul asap atau terjadi perubahan kualitas udara di lingkungan sekitar.
BPBD Sulbar terus memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan sebagai langkah antisipatif menghadapi dampak musim kemarau. Distribusi air bersih, deteksi dini titik panas, serta koordinasi penanganan karhutla menjadi bagian penting dari upaya melindungi masyarakat dan mencegah meluasnya dampak bencana.
Di tengah kemarau yang membatasi ketersediaan air dan meningkatkan risiko kebakaran, kesiapsiagaan menjadi kunci agar ancaman tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (*/Rigo Pramana)
