Dari Tribun Kondosapata, Panggilan Gubernur untuk Kopi dan Sambu' Mamasa
Mamasa, TOKATA.id – Seperti denyut jantung yang tak pernah pudar, budaya Mamasa berdenyut riang di Tribun Lapangan Kondosapata. Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, membuka event “Bulan Mamase” atau Bulan Kasih Sayang pada Senin (6/4/2026), sambil mendorong Pemkab Mamasa segera daftarkan acara ini ke Kharisma Event Nusantara (KEN), program unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Segera daftar ke KEN, nanti kita bantu. Tahun depan Pemprov dukung anggarannya,” tegas Suhardi di hadapan jajaran pemerintah daerah. Ia甚至 ingatkan Dinas Pariwisata untuk masukkan rencana ini ke anggaran 2027. “Catat hari ini, atau nanti dimarahi Bupati,” candanya, disambut tawa hadirin.
"Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mendesak Pemkab Mamasa daftarkan event tahunan “Bulan Mamase” ke Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf, janjikan dukungan anggaran Provinsi 2027, sambil dorong hilirisasi UMKM lokal seperti kopi robusta dan tenun sambu’ agar jadi magnet nasional."
Terpesona parade budaya dari 17 kecamatan, Gubernur tekankan: budaya bukan sekadar warisan, melainkan cerminan jati diri. “Siapa bangga budayanya, berarti bangga dirinya. Siapa cinta budayanya, cinta daerahnya,” katanya penuh makna. Masyarakat Mamasa, ujarnya, masih teguh peluk identitasnya—termasuk pakaian sambu’—di tengah gempuran modernitas. “Di tempat lain jas mendominasi, di sini sambu’ tetap jadi kebanggaan.”
Namun, Suhardi desak tenun sambu’ tak hanya jadi simbol, tapi produk prima. “Desain ulang agar tak hanya disuka orang Mamasa, tapi seluruh Indonesia,” imbuhnya, bandingkan dengan batik yang kini jadi ikon nasional bernilai ekonomi tinggi.
Ekonomi jadi sorotan utama. Gubernur ajak kaitkan budaya dengan UMKM: tarian tradisional bisa dijual di luar daerah, kopi Mamasa diolah bubuk bermerek—“bahkan branding ‘Kopi Gubernur’ untuk robusta khas ini.” Nenas dan markisa pun diminta dihilirisasi jadi selai atau produk turunan. “Jual mentah rugi besar; olah, nilai tambahnya berkali lipat,” pungkasnya.
Bupati Mamasa Welem Sambolangi sebut Bulan Mamase—digelar hingga 30 April—sebagai agenda tahunan bareng Wakilnya H. Sudirman. Event ini libatkan 48 UMKM lokal, buka ruang usaha kecil di Jalan Poros, prioritaskan warga setempat. Lebih dari promosi wisata dan SDA, ini momentum silaturahmi diaspora, gotong royong keluarga besar Mamasa di Bumi Kondosapata Wai Sapalelean.
“Mohon dukung Gubernur dan dinas terkait, agar Bulan Mamase bukan milik Mamasa saja, tapi Indonesia bahkan dunia,” harap Bupati.
(*/Rigo Pramana)
