Benteng Keluarga Sejahtera, Gubernur Sulbar Tekankan Sinergi Hadapi Tantangan Besar Sulbar
Mamuju, TOKATA.id - Gubernur Suhardi Duka secara resmi membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tingkat Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2026. Diselenggarakan BKKBN Sulawesi Barat dengan tema "Transformasi Kemendukbangga Mendukung Program Prioritas Presiden Menuju Indonesia Emas 2045", kegiatan ini berlangsung di Ballroom D’Maleo Hotel, Mamuju, hingga 13 Maret.
"Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (SDK) membuka Rakorta Program Bangga Kencana 2026 di D’Maleo Hotel, Mamuju, 12-13 Maret, dengan seruan menyatukan visi untuk tebas stunting 35,4%—peringkat 3 nasional—pernikahan anak 11,25%, kemiskinan ekstrem 36.952 keluarga, dan 64.548 anak putus sekolah, guna wujudkan keluarga harmonis menuju Indonesia Emas 2045."
Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan rakorda ini sebagai momentum strategis: menyatukan visi, meneguhkan komitmen, dan merumuskan kebijakan presisi yang menyentuh seluruh siklus kehidupan keluarga.
"Mulai dari pernikahan, anak balita, stunting, pernikahan dini, hingga keluarga sejahtera dan lansia," ujarnya, seolah merajut benang nasib bangsa dari lahir hingga senja.
SDK menekankan sinergi dan inovasi untuk percepatan penurunan stunting serta pembangunan keluarga di tengah tantangan 2026. "Ini rangkaian kebijakan terpadu, presisi, agar manfaatnya nyata di tengah masyarakat," tegasnya. Ia memuji BKKBN sebagai benteng pencipta keluarga harmonis, seraya mengajak stakeholder—termasuk pemerintah provinsi, enam kabupaten, TNI-Polri—merajut kerjasama lebar.
"Kita bangun harmoni sehingga program BKKBN, pemerintah provinsi, dan TNI-Polri terintegrasi," lanjutnya. Visi akhirnya? Keluarga sejahtera berbasis sakina, mawaddah, warahmah konsep Indonesia yang diberkati, menjadi berkah bagi lingkungan. "Itu yang kita wujudkan," tutupnya penuh harap.
Tantangan Sulawesi Barat kian mendesak:
Stunting: 35,4% (peringkat 3 nasional).
Pernikahan anak: 11,25% (peringkat 4 nasional).
Kemiskinan ekstrem: 36.952 keluarga (203.802 jiwa).
Anak tidak sekolah: 22,80% (64.548 anak).
Rakorda ini diharapkan jadi panggkalan transformasi, menjadikan keluarga sebagai pondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045. (*/Rigo Pramana)
