Panca Daya dan Ambisi Sulbar Menjadi Hub Kakao Timur Indonesia
Mamuju, TOKATA.id — Sulawesi Barat memiliki modal kuat untuk menjadi pusat agroindustri Kawasan Indonesia Timur. Pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional, lonjakan ekspor hingga 344 persen, dan pertumbuhan industri pengolahan sebesar 15,81 persen menjadi fondasi transformasi ekonomi berbasis komoditas unggulan.
Pencapaian itu merupakan bagian dari implementasi Panca Daya, program prioritas Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, yang bertujuan memperkuat daya saing daerah, menarik investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat, Drs. Amujib, MM, saat memberi tanggapan pemerintah daerah pada Forum Konfirmasi Penyusunan Rekomendasi Core Competence Berbasis Komoditas Unggulan Wilayah Sulawesi dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Forum diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas secara daring, Kamis (2/7/2026).
Forum tersebut merupakan bagian dari penyusunan dokumen Core Competence untuk mendukung transformasi ekonomi nasional melalui pengembangan komoditas unggulan di setiap daerah.
Dalam paparannya, Amujib memaparkan geliat ekonomi Sulawesi Barat yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi daerah mencapai sekitar 5,6 persen, didukung sektor pertanian yang tumbuh 6,05 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 71,16, sementara tingkat pengangguran terbuka berhasil ditekan hingga 3,01 persen.
Capaian ini, menurut Amujib, menjadi modal penting untuk mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas unggulan.
"Selama ini sektor pertanian sering dipandang tradisional. Padahal bagi Sulawesi Barat, inilah kekuatan utama. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi fondasi untuk membangun industri pengolahan, sehingga komoditas kita tidak lagi dijual mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah," ujar Amujib saat mengikuti kegiatan dari Kantor Bapperida Sulbar.
Amujib menambahkan, arah pembangunan tersebut sejalan dengan kebijakan Panca Daya. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mempercepat digitalisasi layanan pemerintahan agar iklim investasi semakin kondusif.
"Melalui Panca Daya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat membangun fondasi kuat bagi investasi. Infrastruktur terus ditingkatkan, SDM dipersiapkan, dan pelayanan perizinan semakin mudah sehingga investor memiliki kepastian untuk mengembangkan usaha di Sulawesi Barat," kata Amujib.
Bapperida Sulbar juga mengusulkan pengembangan sistem rantai pasok tertutup (closed-loop supply chain) yang menghubungkan petani, koperasi, BUMD, industri pengolahan, hingga pelabuhan dalam satu ekosistem. Dengan pola ini, hasil pertanian dapat diolah di Sulawesi Barat sehingga memberi nilai tambah lebih besar, menjaga stabilitas harga di tingkat petani, dan menciptakan lapangan kerja baru.
"Petani tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan mentah. Komoditas harus diolah di Sulawesi Barat agar nilai tambahnya tetap berada di daerah, membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi lokal," jelasnya.
Dalam forum itu, Bapperida Sulbar juga mengusulkan agar Sulawesi Barat diperkuat sebagai Hub Kakao Timur Indonesia dan sebagai pusat pengembangan sawit berkelanjutan dalam dokumen Core Competence nasional. Penguatan posisi tersebut, menurut Amujib, akan mempercepat hilirisasi industri, mendorong investasi, dan memperkokoh peran Sulawesi Barat sebagai penggerak ekonomi Kawasan Timur Indonesia.
"Pengakuan Sulawesi Barat sebagai Hub Kakao Timur Indonesia bukan hanya tentang komoditas, tetapi juga tentang membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, dan mempercepat kesejahteraan masyarakat. Inilah yang ingin kita wujudkan melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah," tutup Amujib. (*/Rigo Pramana)
