Aktivis Desak Evaluasi Full Day, Panas Siang Ancaman bagi Siswa
Mamuju, TOKATA.id — Teriknya matahari pagi membuat suhu udara cepat memuncak. Meski jam baru menunjukkan pukul 10.00, panasnya sudah menyengat kulit dan sulit ditahan.
Kondisi itu mendorong aktivis lingkungan Forum Jaga Bumi (FJB) Sulawesi Barat, Busrang, mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, serta penyelenggara pendidikan dari SD hingga SMA, untuk meninjau kembali kebijakan sekolah full day.
Busrang mengatakan peningkatan suhu dan intensitas paparan sinar matahari berpotensi mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang siswa apabila kegiatan pembelajaran berlangsung di luar kelas pada siang hari, terutama setelah pukul 10.00 hingga sore.
"Bayangkan, baru pukul 10.00 panasnya sudah sangat menyengat. Jika kegiatan sekolah dilaksanakan di luar ruangan pada siang hari di atas pukul 10.00 sampai sekitar pukul 16.00, itu berbahaya bagi kesehatan anak-anak," ujar Busrang.
Ia menambahkan bahwa peringatan lembaga meteorologi, seperti BMKG, seharusnya menjadi dasar pertimbangan. Menurutnya, BMKG telah mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan sinar matahari langsung antara pukul 10.00 hingga terbenam karena berisiko bagi kesehatan.
"Beberapa sekolah tetap melaksanakan full day. Setelah pukul 12.40, siswa diarahkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di luar ruang kelas pada cuaca yang sangat terik. Ini harus dipikirkan serius oleh Disdikbud dan penyelenggara pendidikan untuk segera menghentikannya," tegas Busrang.
Ia mengungkapkan pengukuran pagi hari menunjukkan suhu dapat mencapai sekitar 30 derajat Celsius, dan akan meningkat lebih tinggi pada pukul 11.00–15.00. Busrang menyarankan agar jadwal pembelajaran disusun ulang: sisa pelajaran yang biasanya dilaksanakan pada sesi siang dapat digeser ke hari Sabtu, dengan kegiatan berakhir paling lambat pukul 10.00–11.00. (Rigo Pramana)
