65,2% Kasus TBC Terlewat, Sulbar Luncurkan Strategi “Garatta TBC
Mamuju, TOKATA.id — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat bergerak cepat menyingkap tantangan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) yang masih mengintai masyarakat. Dalam Dialog Interaktif “Indonesia Sehat” yang disiarkan multiplatform oleh RRI Mamuju, Jumat 3 Juli 2026, muncul data epidemiologi yang mengejutkan: dari estimasi target 5.002 kasus, baru 1.743 kasus terdeteksi; sekitar 3.259 kasus atau 65,2 persen diperkirakan masih terlewat.
Acara yang dipandu Dwita Ardiyana menghadirkan Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, dan Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama DKPPKB Sulbar, Harsalim. Tema diskusi, “Deteksi Dini TBC: Mengapa Kasus Masih Banyak yang Terlewat?”, membedah akar masalah sekaligus menyodorkan strategi cepat penanggulangan.
“Baru sekitar 34,8 persen kasus yang berhasil kita temukan dan obati hingga pertengahan tahun ini. Sisanya—hampir 65 persen—masih beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari mereka dapat menularkan bakteri ini kepada 10–15 orang setiap tahunnya. Deteksi dini bukan lagi sekadar program; ia adalah urgensi bersama,” tegas dr. Nursyamsi.
Harsalim menyorot faktor-faktor yang membuat kasus terlambat terdeteksi: rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri bila batuk persisten lebih dari dua minggu, dan stigma negatif yang menimbulkan rasa takut atau malu berobat. Ia mengingatkan bahwa pemeriksaan kini memakai Tes Cepat Molekuler (TCM) yang akurat, dan bahwa seluruh pemeriksaan serta pengobatan TBC disediakan gratis di puskesmas.
Menjawab tantangan tersebut, DKPPKB Sulbar meluncurkan strategi percepatan yang diberi nama “Garatta TBC” — sebuah upaya jemput bola untuk menyisir hingga akar rumput. Strategi ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah Gubernur Suhardi Duka untuk mempercepat eliminasi TBC dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat demi mewujudkan visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”.
“Kita tidak bisa lagi menunggu pasien datang. Melalui Garatta TBC, kita melakukan jemput bola. Ini komitmen penuh pemerintah provinsi untuk memastikan masyarakat Sulbar sehat, produktif, dan bebas dari beban TBC,” lanjut dr. Nursyamsi.
Keberhasilan Garatta TBC ditopang kolaborasi lintas sektor. DKPPKB menggandeng Polda Sulbar untuk memaksimalkan peran personel Bhabinkamtibmas yang memiliki kontak langsung dengan warga setiap hari. Di tingkat desa, kerja sama diperkuat bersama pemerintah desa, TP-PKK, posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh pemuda. Tujuannya: menurunkan stigma, meningkatkan deteksi dini, dan memastikan pengawasan berlapis terhadap pasien — mulai rujukan ke puskesmas hingga kepatuhan minum obat sampai dinyatakan sembuh.
Dengan pelibatan Bhabinkamtibmas dan perangkat desa, pengawasan pasien akan dikawal secara sistematis; melalui edukasi komunitas dan sosialisasi digital para pemuda, DKPPKB berharap gelombang temuan kasus aktif (active case finding) dapat melonjak.
DKPPKB Sulbar membuka ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan melaporkan indikasi kasus di lingkungan masing-masing. Dalam siaran interaktif itu, ajakan tegas disampaikan: apabila mengalami batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, jangan ragu melapor atau memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.
Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan — aparat penegak hukum, perangkat desa, tokoh agama dan adat, organisasi perempuan, serta generasi muda — Sulawesi Barat optimis memperkecil angka kasus yang terlewat dan mempercepat laju eliminasi TBC. Upaya ini bukan sekadar angka: ia adalah upaya menyelamatkan produktivitas, menggugah kesadaran, dan menutup ruang bagi penyakit yang memakan waktu dan harapan. (*/Rigo Pramana)
.jpeg)