BREAKING NEWS

Efisiensi Benteng Fiskal Sulbar di Tengah Badai Global

 


Mamuju, TOKATA.id – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka memimpin apel virtual seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Sulbar, Senin (4/5/2026), menyerukan efisiensi anggaran sebagai benteng utama di tengah gelombang ketidakpastian nasional.

Dalam arahannya, Suhardi menekankan bahwa kondisi ekonomi kini bukan lagi zamana normalitas, melainkan medan tekanan politik dan konflik global yang mengguncang perekonomian dunia hingga Indonesia. "Situasi ini menuntut kita mengubah paradigma pengelolaan program dan anggaran," tegasnya. Setiap kebijakan harus lahir dari manfaat nyata bagi rakyat, bukan sekadar tinta di lembar APBD.

Efisiensi, baginya, bukan opsi mewah, melainkan keharusan telanjang. Program tanpa dampak langsung bagi masyarakat harus dikesampingkan, meski telah terpatri dalam dokumen fiskal. "Dalam keterbatasan, kita pilah prioritas dengan rasionalitas dan tanggung jawab," ujarnya, mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) untuk bekerja maksimal melayani publik sambil menghindari langkah yang memicu sorotan.

Pengawasan publik kini seperti mata elang digital: setiap tindakan pejabat berpotensi viral, positif atau negatif. Suhardi memerintahkan jajaran berhati-hati, menjauhi praktik memperlambat layanan atau pungutan liar. Ia tegas melarang sekolah menarik iuran dari orang tua murid, walau atas kesepakatan sekalipun.

Loyalitas ASN terhadap institusi juga disorot. "Janganlah kita sendiri yang mengguncang kapal kita," pesannya, mendorong penyelesaian kekeliruan secara internal dengan semangat perbaikan, bukan memperkeruh di ruang publik.

Tekanan keuangan daerah kian nyata: pendapatan asli daerah (PAD) merosot tajam, khususnya pajak rokok dan transfer pusat, dengan defisit sekitar Rp67 miliar. "Penerimaan APBD semakin menurun. Pajak rokok dan APBN kurang lebih Rp67 miliar. Kita harus efisiensi lagi," kata Suhardi.

Menutup apel, ia mengingatkan nilai dasar ASN: kepentingan umum di atas segalanya. Fokus pada pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran harus dijaga dengan integritas dan profesionalisme, bagai pelita di malam fiskal yang kelam. (*/Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar