BREAKING NEWS

Dari Ancaman Hama ke Panen Aman, Gerdal OPT di Lahan Bawang Merah Polman

 


Mamuju, TOKATA.id - Seperti prajurit alam yang bangkit menghadapi invasi, petani di tiga kelompok tani (poktan) Desa Bala dan Lambanan (Kecamatan Balanipa) serta Desa Suruang (Kecamatan Campalagian) menyemprot lahan seluas 21 hektare. Serangan ulat grayak (Spodoptera) terdeteksi pada tanaman berumur 50-65 hari setelah tanam (HST), mengancam hilangnya hasil panen jika tak dikendalikan cepat.

Yonatan, Penanggungjawab Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Rea Timur, memimpin aksi ini bersama POPT kecamatan, Dinas Bumi Tangara (Disbuntarnak) Polman, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). "Pengendalian kimiawi pakai insektisida dimehipo 400 g/L direkomendasikan untuk putus siklus hama," tegasnya.

Lebih lanjut, Yonatan sarankan petani lakukan perlakuan benih dan rotasi tanam dengan legum atau kacang-kacangan. "Ini minimalisir kerugian, maksimalkan produksi," ujarnya. Upaya ini selaras misi Gubernur Sulbar Suhardi Duka: percepat pengentasan kemiskinan melalui kesejahteraan petani.

Roswati Jusuf, Kepala Seksi Pengamatan dan Pengendalian OPT (P2OPT), sebut Gerdal sebagai strategi dini antisemprotan serempak cegah penyebaran. "Minggu depan, kami pantau ulang bersama POPT Balanipa dan Campalagian untuk evaluasi," katanya.

Ritje Rombe, Kepala Seksi Pengembangan Teknologi dan Laboratorium, ingatkan: insektisida dimehipo (bentuk SL, racun kontak-lambung) hanya saat serangan ambang ekonomi. "Gunakan bijak: tepat sasaran, jenis, waktu, dosis—hindari resistensi hama, polusi lingkungan, dan risiko kesehatan," jelasnya.

Kepala DTPHP Sulbar, Hamdani Hamdi, desak semua pemangku kepentingan konsisten pantau. "Pengendalian efektif kunci panen petani aman," tegasnya. (*/Rigo Pramana)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar