Pakaian Adat Kalumpang dan Tari Tenggang-Tenggang Lopi, Cara Sulbar Merawat Warisan Leluhur di Panggung Nasional
Jakarta, TOKATA.id – Pakaian adat Kalumpang dan Tari Tenggang-Tenggang Lopi menjadi wajah kebudayaan Sulawesi Barat dalam gelaran Festival Negeri Kami 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada 23–25 Oktober 2026. Melalui peragaan busana dan pertunjukan seni tradisional, Sulawesi Barat memperkenalkan kekayaan warisan leluhur sekaligus menegaskan bahwa budaya daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.
Festival yang diselenggarakan International Creatives Exchange (ICE) itu mengusung tema “Merayakan Ragam, Menyatukan Negeri”. Ajang ini mempertemukan beragam ekspresi seni dan budaya Nusantara, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku budaya, pemerintah, komunitas kreatif, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat umum.
Bagi Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat, keikutsertaan dalam festival tersebut bukan sekadar menghadirkan representasi daerah di panggung nasional. Lebih dari itu, momentum ini menjadi kesempatan untuk membawa cerita, nilai, dan identitas masyarakat Sulawesi Barat agar semakin dikenal oleh khalayak luas.
Pakaian adat Kalumpang menjadi salah satu representasi warisan budaya yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Busana tradisional ini tidak hanya menampilkan kekhasan visual, tetapi juga merefleksikan identitas dan tradisi masyarakat yang perlu dijaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman.
Firmansyah, perwakilan Sulawesi Barat yang mendapat kesempatan memperagakan pakaian adat Kalumpang, mengaku bangga dapat membawa identitas budaya daerah asalnya ke hadapan publik yang lebih luas.
“Sebagai perwakilan Sulawesi Barat, saya sangat bangga bisa menjadi peraga busana adat Kalumpang. Apalagi, Kalumpang berasal dari Kabupaten Mamuju, tempat saya berasal. Bagi saya, ini bukan sekadar mengenakan pakaian adat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya daerah sendiri kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkap Firmansyah.
Menurutnya, pengenalan pakaian adat merupakan salah satu cara menjaga agar kekayaan budaya daerah tetap dikenal, terutama oleh generasi muda. Kebanggaan terhadap warisan leluhur, kata dia, perlu ditumbuhkan agar tradisi tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dalam kesadaran generasi penerus.
Selain peragaan busana, Sulawesi Barat juga menghadirkan Tari Tenggang-Tenggang Lopi yang tampil dalam rangkaian festival pada Minggu, 25 Oktober 2026. Gerak tari yang dinamis berpadu dengan iringan musik tradisional, menghadirkan ekspresi seni yang menarik perhatian pengunjung sekaligus memperkenalkan kekhasan pertunjukan budaya Sulawesi Barat.
Melalui penampilan tersebut, seni tradisional tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga menjadi medium untuk mengenalkan kehidupan, nilai, dan identitas masyarakat daerah. Setiap gerak dan irama membuka ruang bagi publik untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang di Sulawesi Barat.
Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Gemilang Sukma, mengatakan partisipasi daerah dalam Festival Negeri Kami 2026 merupakan bagian dari komitmen untuk menjadikan seni pertunjukan sebagai sarana promosi budaya.
“Keikutsertaan dalam festival ini merupakan bagian dari komitmen Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat untuk menjadikan seni pertunjukan sebagai sarana promosi budaya daerah,” kata Gemilang Sukma.
Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat luas, tetapi juga membuka ruang untuk menumbuhkan apresiasi terhadap identitas budaya lokal di tengah keberagaman Indonesia.
Founder and Global Head ICE, Atta Ul Karim, menyampaikan bahwa Festival Negeri Kami lahir dari keyakinan bahwa budaya merupakan kekuatan strategis untuk mempererat persatuan bangsa sekaligus membangun kolaborasi lintas negara. Budaya, dalam pandangan tersebut, menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan manusia tanpa dibatasi perbedaan geografis.
Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pertunjukan tari dan musik tradisional, lagu-lagu nasional dengan iringan orkestra etnik, pameran budaya daerah, instalasi seni, permainan tradisional Nusantara, hingga pameran produk ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Indonesia.
Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak berdiri sendiri sebagai peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat ruang bagi kreativitas, penguatan identitas, dan peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Kehadiran pakaian adat Kalumpang dan Tari Tenggang-Tenggang Lopi di TMII menjadi bagian dari upaya Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat dalam memperkuat promosi potensi seni dan budaya daerah di tingkat nasional. Pengenalan ini diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenali dan melestarikan warisan budayanya.
Pada akhirnya, menjaga kebudayaan bukan semata-mata tentang mempertahankan apa yang diwariskan, melainkan juga memastikan warisan itu tetap memiliki tempat dalam kehidupan hari ini dan masa depan. Melalui panggung Festival Negeri Kami 2026, Sulawesi Barat membawa pesan bahwa tradisi akan terus hidup selama ada generasi yang mengenal, mencintai, dan bersedia merawatnya.
Dari busana adat Kalumpang hingga gerak Tari Tenggang-Tenggang Lopi, Sulawesi Barat menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah bukan sekadar penanda asal-usul, melainkan bagian dari mozaik kebangsaan yang menyatukan Indonesia dalam keberagaman. (*/Rigo Pramana)
.jpeg)