Ketika Anak Kembali ke Sekolah, Gerakan ABPS Sulbar Dapat Perhatian Direktorat SMA
Mamuju, TOKATA.id - Gerakan Pengembalian Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS) yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Daerah Provinsi Sulawesi Barat mendapat perhatian Direktorat SMA Kemendikbud.
Perhatian tersebut terlihat dalam unggahan akun Instagram resmi Direktorat SMA, @direktorat.sma, pada Jumat, 4 September 2026.
Dalam unggahan itu, Direktorat SMA menyoroti pentingnya pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), termasuk melalui Gerakan Pencegahan ABPS yang mendorong anak-anak berisiko putus sekolah agar tetap memiliki jalan untuk melanjutkan pendidikan.
“Anak Tidak Sekolah (ATS) bukan sekadar tentang tidak berada di ruang kelas. Ada kesempatan belajar yang sempat terhenti, dan ada mimpi yang menunggu untuk kembali dilanjutkan,” tulis Direktorat SMA dalam unggahannya.
Direktorat SMA menyebut, melalui Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026, pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan ATS agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan untuk kembali menempuh pendidikan.
Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui Gerakan Pencegahan ABPS. Bersama dinas pendidikan dan satuan pendidikan, Direktorat SMA mendorong identifikasi serta pendampingan sejak dini terhadap murid yang berisiko putus sekolah.
Upaya itu antara lain dirasakan dua murid SMAN 1 Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Zuhra dan Muhammad Arwin. Keduanya kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah.
Bagi Zuhra, kesempatan kembali ke bangku sekolah bukan sekadar tentang melanjutkan pelajaran, tetapi juga membuka kembali jalan menuju cita-cita dan masa depan yang sempat tertunda.
“Kesempatan ini sangat berarti bagi saya setelah sebelumnya saya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Kini kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar meraih cita-cita dan memperbaiki masa depan,” kata Zuhra.
Hal serupa disampaikan Muhammad Arwin. Ia berkomitmen menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk belajar lebih sungguh-sungguh dan membangun kembali kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Saya berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Belajar dengan sungguh-sungguh, serta berusaha menjadi siswa disiplin dan bertanggung jawab,” ujar Arwin.
Kisah Zuhra dan Muhammad Arwin menjadi gambaran bahwa identifikasi dan pendampingan sejak dini terhadap anak berisiko putus sekolah dapat membuka kembali pintu pendidikan yang nyaris tertutup.
Di balik angka dan program penanganan Anak Tidak Sekolah, ada anak-anak yang masih menyimpan cita-cita. Ada langkah yang sempat terhenti, tetapi juga ada kesempatan untuk kembali berjalan.
Gerakan Pencegahan ABPS atau pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang diprogramkan Gubernur Suhardi Duka (SDK) pun menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak yang sempat terancam meninggalkan bangku sekolah tetap memiliki kesempatan untuk kembali belajar dan mengejar cita-cita (*/Rigo Pramana)
