Hanya Dibawah Cahaya Bulan, Hidup Arif (58) Bersama Anaknya di Sebuah Gubuk Desa Kuo, Mamuju Tengah
Mamuju Tengah, TOKATA.id - Gubuk reyot itu berdiri tegak di sepetak tanah keluarga, seperti metafora ketangguhan di tengah badai ekonomi yang melanda pelosok Mamuju Tengah. Arif, pria bertubuh kurus berusia 58 tahun, tak punya pilihan lain.
"Di bawah langit Sulawesi Barat yang kelam, Arif Usman (58) dan putranya RD (11) meringkuk setiap malam di gubuk 2x3 meter, tanpa listrik, tanpa perabot, hanya ditemani cahaya bulan sebagai saksi bisu perjuangan mereka melawan kemiskinan."
Kondisi serba terbatas memaksanya bertahan dengan apa adanyakain lusuh sebagai alas tidur, dan rutinitas harian yang bergantung sepenuhnya pada matahari.
"Setiap senja, kegelapan datang lebih cepat daripada harapan," cerita Arif dengan suara parau, mata memandang ke kejauhan.
Tanpa aliran listrik, malam hari menjadi musuh. Tak ada lampu, tak ada lemari, apalagi tempat tidur layak. Hanya angin malam yang menyusup lewat celah-celah bambu, mengiringi mimpi RD anak Arief yang masih polos di usia 11 tahun.
Kisah ini bukan sekadar potret tragis, melainkan panggilan nurani. Di Kabupaten Mamuju Tengah, data BPS 2025 mencatat 18 persen penduduk desa hidup di bawah garis kemiskinan, dengan akses fasilitas dasar seperti listrik hanya mencapai 72 persen.
Arif mewakili ribuan wajah tak kasatmata yang menanti uluran tangan pemerintah dan masyarakat program bedah rumah, bantuan listrik desa, atau sekadar kepedulian tetangga.
Seperti pohon tunggal di padang tandus, Arif bertahan. Namun, berapa lama lagi sebelum angin kencang merobek gubuk itu? Pemerintah daerah dan relawan kini diharap turun tangan, mengubah kegelapan menjadi cahaya layak huni. (Rigo Pramana)
