Tidak Ada Favoritisme di Sulbar, Gubernur Peringatkan OPD, Kinerja Bobrok Berujung "Penunggu"
"Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menegaskan kesetaraan mutlak bagi enam kabupaten dan jajaran OPD, tapi kinerja jadi pembeda tajam: yang unggul bak emas, yang bobrok seperti besi berkarat yang dibenci penunggu."
Mamuju, TOKATA.id – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (SDK) membabat keraguan soal favoritisme daerah dengan tegas: tidak ada satu kabupaten pun yang diperlakukan sebelah mata di era kepemimpinannya. Enam kabupaten Sulbar dipandang sama, "dengan empat mata"—bukan sekadar dua—oleh dirinya dan Wakil Gubernur.
Pernyataan itu mengalir deras saat malam silaturahmi dan refleksi akhir tahun di Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (31/12). "Yakinlah bahwa tidak ada kabupaten yang kita pandang sebelah mata. Semua kabupaten kita pandang dengan empat mata. Saya dengan Pak Wakil Gubernur sama dengan kabupaten-kabupaten lain," tegas SDK, metaforanya menusuk seperti pisau bedah yang mengupas dinamika pemerintahan provinsi.
Prinsip egaliter itu merangkul pula kepala organisasi perangkat daerah (OPD). "Begitu juga dengan saudara-saudara kepala OPD, tidak ada yang kami pandang sebelah mata. Sama kedudukannya," ujarnya, menekankan hierarki bukan ditentukan jabatan, melainkan rekam jejak nyata.
Namun, SDK menggores garis pembeda yang krusial dan kritis: kinerja. Bukan wilayah atau posisi, tapi prestasi yang jadi ukuran emas. "Yang membedakan Anda dengan yang lain hanya kinerja saudara. Kalau Anda punya kinerja baik, Anda emas di mata kami berdua. Tapi kalau kinerja bobrok, Anda dibawanya penunggu—bukan lagi perak, tapi mungkin besi berkarat. Janganlah menjadi besi berkarat, capailah kinerja maksimal," pungkasnya, peringatan pedas yang menggantung seperti ancaman halus bagi yang lamban.
SDK tak menutupi badai tantangan 2026: pemerintahan butuh kerja cerdas, fokus, dan optimisme tawadhu. Target Panca Daya tak akan diringankan; pertumbuhan ekonomi dijaga sambil tekan angka kemiskinan satu persen per tahun. "Yakinlah 2026 kita semakin optimis dan tawadhu. Role model kita ada di tengah-tengah: Pak Wakil Gubernur," jelasnya, menjadikan sikap rendah hati itu sebagai mercusuar.
Keyakinan SDK bergantung pada ketawadhuan itu sebagai sumber ilahi. "Dengan ketawaduan itu, saya yakin Tuhan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kekuatan kepada kita semua," tutupnya, pesan yang menyiratkan: kesetaraan lahir dari kinerja, bukan janji kosong. (*/Rigo Pramana)
