Menjaga Nalar di Era Digital: Bimtek Literasi Informasi di Mamuju
Mamuju, TOKATA.id — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Barat menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi pada Kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan itu digelar sebagai dukungan terhadap program Sulbar Mandarras yang digagas pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka.
Acara menghadirkan tiga narasumber: Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika, Shalahuddin; Dosen FISIP Unsulbar sekaligus Maheswara Pratama BPIP-RI, Farhanuddin; serta penulis dan Duta Baca Sulbar, Muhammad Ridwan Alimuddin. Sebanyak 150 peserta mengikuti Bimtek, yang terdiri dari pustakawan, tenaga perpustakaan, guru, dan pegiat literasi.
Dalam paparan bertajuk “Digitalitas dan Literasi Digital”, Shalahuddin menegaskan besarnya perubahan yang dibawa teknologi digital terhadap kehidupan sosial dan cara berpikir masyarakat. “Hari ini hampir semua orang sudah online. Tapi belum tentu semua orang paham apa yang mereka akses di internet dan bagaimana teknologi memengaruhi sekaligus mengubah perilakunya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa digitalitas telah melahirkan pola hidup dan interaksi baru: persepsi, kepercayaan, dan cara berkomunikasi berubah. Masalah muncul ketika cara hidup sudah digital, tetapi cara memahami dunia masih tertinggal. Shalahuddin juga memaparkan persoalan yang muncul pada era digital, antara lain kesenjangan akses teknologi, perbedaan peran antara citizen dan netizen, serta pergeseran otoritas yang menantang struktur mapan.
Tekanan psikologis, perubahan identitas, dan pengaruh terhadap kemampuan berpikir menjadi dampak lain yang perlu mendapat perhatian, menurut Shalahuddin. Di sektor pendidikan, ia menyorot tantangan konten edukasi yang harus bersaing dengan hiburan digital yang mudah viral sehingga menimbulkan kebosanan belajar.
Shalahuddin berpesan bahwa literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan penggunaan aplikasi atau praktik aman berselancar di internet. “Yang lebih penting adalah memahami cara berpikir dan bagaimana dunia digital mengontrol kehidupan kita,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa rendahnya literasi berkaitan tidak hanya dengan keterampilan membaca, tetapi juga struktur sosial dan akses internet.
Untuk menjaga nalar publik, Shalahuddin mengajak peran bersama: guru merawat daya pikir generasi di ruang kelas, pegiat literasi membangun nalar kritis di akar rumput, dan pustakawan menjernihkan sumber informasi publik. Ia juga menekankan pentingnya membangun resiliensi digital melalui penguatan identitas, kemampuan memilah dan memverifikasi informasi, keamanan digital, serta peningkatan infrastruktur TIK.
“Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. Tapi kita bisa memastikan manusia tetap memegang kendali,” kata Shalahuddin. Ia menutup dengan menegaskan bahwa literasi digital sejatinya bukan sekadar mahir menggunakan teknologi, melainkan kemampuan untuk tetap menjadi manusia yang memiliki arah di tengah derasnya perkembangan teknologi. (*/Rigo Pramana)
