Dari PPI Binanga ke Pasar Global: Sulbar Kawal Produk Perikanan Sehat
Mamuju, TOKATA.id – Keamanan pangan bagai benteng tak tergoyahkan bagi kualitas hidup masyarakat Sulawesi Barat, sekaligus kunci daya saing produk lokal di panggung global. Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulbar gencar turun lapangan, memastikan ikan di pasar tradisional bebas formalin, boraks, dan zat kimia mematikan lainnya.
Langkah ini mewujudkan komitmen Gubernur Suhardi Duka dan Sekprov Junda Maulana dalam PANCA DAYA, khususnya "Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan". Sektor perikanan dipacu sebagai roda penggerak kesejahteraan, dengan memperkuat UMKM dan kepercayaan konsumen lewat produk aman.
Edukasi di Jantung PPI Binanga
Kamis (7/5/2026), tim PSDKP gelar sosialisasi Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya di Pasar Pagi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binanga, Mamuju. Petugas edukasi pedagang dan warga soal BTP legal versus ilegal seperti formalin (karsinogenik), boraks (rusak ginjal-hati), pewarna tekstil, dan residu pestisida.
Mereka bagikan flyer panduan kenali ikan berformalin:
Tekstur kenyal, sulit hancur.
Insang pucat, bukan merah segar.
Tak dihinggapi lalat di udara terbuka.
Aroma kimia menyengat, bukan amis laut.
Kabid PSDKP Irwan Latif tegas, "Rantai distribusi ikan dari daratan hingga konsumen kami pantau ketat. Edukasi ini preventif, tapi pelanggar regulasi kami tindak tegas. Keamanan konsumen prioritas utama."
Suara Lapangan
Pedagang Murni (44) janji jaga kesegaran alami: "Tak pernah pakai formalin atau boraks. Ikan langsung dijual dari kapal, sisa pakai es batu. Pewarna pun dihindari. Stok di Binanga cepat habis dalam 3-4 hari, atau diolah asin."
Konsumen Fadli (37) apresiasi: "Luar biasa. Dulu beli asal-asalan, kini tahu bahaya. Dukung pengawasan agar makanan sehat."
Menuju Ekspor dan Ekonomi Inklusif
Standar ini tak hanya jaga kesehatan, tapi buka peluang ekspor ikan Mamuju ke ritel modern. Kepala DKP Sulbar Safaruddin optimis: "Keamanan pangan harga mati. Edukasi rutin bangun ekosistem jujur. Kepercayaan naik, nilai jual nelayan melonjak—motor ekonomi inklusif Sulbar." (*/Rigo Pramana)
