Perawat Ujung Tombak Kesehatan Sulbar: Pemprov Dukung Rakerwil PPNI
"Kepala Dinas Kesehatan Sulbar dr. Nursyamsi Rahim hadir di Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW PPNI Sulbar, menegaskan perawat sebagai ujung tombak layanan kesehatan primer hingga penanganan bencana, sejalan dengan prioritas Pemprov menekan stunting dan tingkatkan mutu pelayanan di tengah tantangan daerah."
Mamuju, TOKATA.id – Seperti prajurit garis depan di medan perang kesehatan, perawat Sulawesi Barat (Sulbar) ditegaskan sebagai tulang punggung peningkatan derajat masyarakat. Pernyataan tegas itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, saat menghadiri Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sulbar di Aula RSUD Mamuju, Minggu (11/01).
Kehadiran dr. Nursyamsi secara langsung menandakan komitmen Pemprov Sulbar memperkuat organisasi profesi perawat, selaras dengan Panca Daya ke-3 visi Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga: mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter. Namun, di balik dukungan itu, tantangan nyata seperti angka stunting yang masih tinggi dan rawan bencana menuntut aksi konkret, bukan sekadar forum evaluasi.
"Dalam sambutannya, dr. Nursyamsi menyampaikan apresiasi mendalam atas rakerwil ini sebagai panggung strategis untuk evaluasi, perencanaan, dan konsolidasi PPNI," tulis catatan resmi acara. Ia menekankan: “Perawat adalah ujung tombak pelayanan kesehatan—di puskesmas, rumah sakit rujukan, hingga komunitas. Kontribusi mereka menentukan suksesnya peningkatan kesehatan masyarakat Sulbar.”
Lebih lanjut, dr. Nursyamsi merinci program prioritas Dinkes Sulbar yang kini bergantung pada perawat sebagai mitra strategis: optimalisasi puskesmas untuk layanan primer, percepatan penurunan stunting plus peningkatan kesehatan ibu-anak, jaminan mutu dan keselamatan pasien, pengendalian penyakit menular-tidak menular, penguatan SDM kesehatan, serta respons krisis bencana pra-, saat, dan pasca-musibah.
Kritik tersirat muncul saat ia menyoroti peran perawat tak lagi sekadar pelaksana, melainkan agen perubahan: mendorong literasi kesehatan masyarakat, menjaga etika profesional, dan memastikan layanan bermutu. "PPNI harus jadi mitra daerah yang adaptif terhadap era digital dan tantangan iklim," tegasnya, meski belum ada detail indikator kinerja spesifik dari rakerwil ini.
Pemprov Sulbar berharap rakerwil menghasilkan program kerja PPNI yang sinkron dengan prioritas daerah, fokus pada kualitas pelayanan dan kesejahteraan anggota. Komitmen sinergi pun ditegaskan: kolaborasi berkelanjutan untuk layanan kesehatan merata, bermutu, dan berkeadilan—terutama bagi wilayah terpencil Sulbar yang rentan bencana.
Acara ini jadi pengingat kritis: dukungan pemerintah harus berujung pada aksi lapangan, agar visi SDM unggul tak sekadar wacana. (*/Rigo Pramana)
