Sosial Media
0
News
    Home Bacaan Literasi Mamuju Perpusip Sulbar Sulbar

    Inovasi Perpusip Sulbar, Sabtu-Minggu Jadi Hari Baca Wajib Keluarga

    7 min read

     


    "Saat akhir pekan biasanya identik dengan pantai dan hiruk-pikuk pasar, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Sulbar justru membuka lebar pintu perpustakaannya setiap Sabtu-Minggu. Inovasi ini bukan sekadar layanan tambahan, melainkan serangan balik tegas terhadap budaya literasi yang masih tertidur di tengah masyarakat Sulbar."


    Mamuju, TOKATA.id - Kepala Dinas Perpusip Sulbar, Mustari Mula, menekankan urgensi inovasi ini. "Perpustakaan harus berevolusi, bukan mandek seperti buku berdebu. Sabtu dan Minggu adalah ladang emas untuk siswa, mahasiswa, dan keluarga mengisi libur dengan baca yang produktif," tegasnya di Mamuju, Rabu (7/1/2026).

    Langkah ini selaras dengan Gerakan Sulbar Mandarras, program unggulan Gubernur Suhardi Duka dan Wakilnya Salim S. Mengga. Gerakan itu menargetkan perpustakaan sebagai ruang napas literasi: inklusif, dekat masyarakat, bukan lagi gudang buku sepi.

    "Perpustakaan kini ruang belajar, interaksi, dan lahirnya ide segar. Kami dekatkan ke masyarakat, dari pelajar hingga keluarga," lanjut Mustari, menyiratkan kritik halus pada akses literasi yang selama ini terbatas di pelosok Sulbar.

    Optimalisasi akhir pekan terintegrasi dengan Festival Literasi: agenda rekreatif-edukatif yang libatkan pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga keluarga. Ada baca bersama di bawah pohon rindang, diskusi buku panas, lomba literasi, dan kreasi anak bertema kearifan lokal seperti legenda Mandar.

    Mustari menyoroti peran keluarga. "Jadikan perpustakaan destinasi wisata edukatif. Orang tua, ajak anak baca, ikut kegiatan—ubah libur dari sekadar rebahan jadi benih literasi sejak dini."

    Layanan yang dihidupkan mencakup baca di tempat, koleksi anak-remaja, ruang diskusi, pojok literasi tematik, hingga spot wisata seperti kawasan Pantai Pelabuhan Feri Simboro Mamuju—setiap Sabtu-Minggu sore, di mana angin laut bercampur aroma kertas tua.

    Harapannya jelas: perpustakaan Sulbar bangkit sebagai pusat pembelajaran seumur hidup, penggerak literasi daerah, dan magnet wisata yang tingkatkan SDM. Di tengah tantangan minat baca nasional yang lesu, inisiatif ini bisa jadi model—atau sekadar angin lalu jika tak didukung masyarakat. (*/Rigo Pramana)

    Komentar
    Additional JS