Wawancara JPT Pratama Hari Kedua, Suhardi Duka Uji Konsistensi Peserta
"Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka secara tegas menjebak karakter dan konsistensi calon Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama melalui wawancara hari kedua pada Selasa (16/12), mengungkap inkonsistensi beberapa peserta meski kemampuan umumnya mumpuni—proses disiarkan langsung YouTube untuk akuntabilitas publik."
Mamuju, TOKATA.id – Seperti pedang bermata dua yang mengiris lapisan kepalsuan, wawancara hari kedua seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) berlangsung sengit pada Selasa (16/12). Dipimpin Gubernur Suhardi Duka, Wakil Gubernur Salim S Mengga, dan Sekda Junda Maulana, tahap ini menggali bukan hanya kompetensi, tapi juga integritas dan karakter para peserta, dengan siaran langsung via YouTube resmi Pemprov Sulbar sebagai jaminan transparansi.
Ketiga pimpinan terlibat aktif: Gubernur fokus menjebak konsistensi melalui pertanyaan licik, Wakil Gubernur menilai sikap, sementara Sekda menguji penguasaan teknis jabatan. Proses ini disaksikan langsung oleh para kepala OPD, memastikan pengawasan internal yang ketat.
Gubernur Suhardi Duka menegaskan pendekatannya. "Saya wawancara langsung, lebih ke karakternya. Pertanyaan saya banyak menjebak: bagaimana konsistensinya, karakternya, pemerhatian masalahnya," katanya tegas.
Ia tambahkan, "Pak Wagub juga ke sikap dan konsistensi, Pak Sekda ke tugas teknis. Ini masih proses." Secara keseluruhan, peserta dinilai kompeten, tapi tak luput kritik: "Kemampuan mampu, hanya ada yang tidak konsisten," pungkasnya, sinyal kritis bahwa integritas tetap jadi penghalang utama.
Proses rampung hari ini, dilanjutkan berembuk ketiga pimpinan. "Kami bertiga: saya, Pak Wagub, Pak Sekda," tegas Suhardi. Ia janjikan mekanisme terbuka ini berlanjut untuk seleksi promosi, beda dengan mutasi eselon II yang lebih tertutup.
Langkah ini perkuat komitmen Pemprov Sulbar ciptakan birokrasi objektif dan profesional, meski tantangan inkonsistensi peserta ingatkan: pemimpin sejati lahir dari ujian karakter, bukan sekadar kertas kredensial. (*/Rigo Pramana)
